Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Makalah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Oktober 2015

STOP Sebagai Strategi Pengendali Politik Gaduh


Setahun lalu, bangsa Indonesia berhasil melaksanakan PILPRES 2014 dimana dalam pemilihan tersebut dimenangi oleh pasangan Ir. Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) mengalahkan tokoh militer alumnus Kopassus Prabowo Subianto, kemenangan Jokowi-JK ini merupakan antitesa dari isu yang beredar, yaitu NKRI tidak akan lama dipimpin oleh tokoh yang lahir dari tokoh sipil. Tokoh sederhana nan bersahaja merupakan ciri khas yang dijual pasangan Jokowi-JK untuk menggaet hati rakyat dan metode ini cukup berhasil meraup suara terbanyak dalam pesta demokrasi 5 tahunan tersebut, seiring berjalannya waktu proses berjalannya era kepemimpinan Jokowi-JK saat ini banyak mendapat kritikan dari berbagai elemen masyarakat terkait beberapa permasalahan-permasalahan yang belum mampu diselesaikan pemerintahan baru baik dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, agama, dan bidang-bidang lainnya. Disamping itu, keberhasilan Jokowi-JK mengemban amanah dari rakyat sebagai kepala negara belum mampu menjawab ekspektasi masyarakat secara keseluruhan hal ini disebabkan oleh berbagai sikap lemah presiden dalam memimpin negara, sehingga agak kontradiktif dari apa yang menjadi slogan utama ketika mencalonkan diri kala PILPRES 2014 lalu “revolusi mental”.  Kemampuan rezim Jokowi-JK menjadi pemenang pada Pilpres 2014 lalu menjadi barometer baru dalam model kepemimpinan di Negara Kesatua Republik Indonesia ini, sosok sederhana, apa adanya, dan tampang pas-pasan menjadi kartu As tersendiri bagi Jokowi-JK. Namun jika kondisi ini disandingkan dengan beberapa tokoh nasional lainnya mungkin sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya apalagi jika ditilik melalui konsep ide dan gagasan tokoh-tokoh sebelumnya.
Indonesia merupakan negara besar yang memiliki ribuan suku dan bahasa yang berbeda-beda satu sama lain, bahkan dalam satu daerahpun terdapat beberapa macam suku-bahasa yang menyatu.
Dengan keberagaman ini lahirlah tokoh-tokoh nasional yang mampu menyatukan diri dalam tubuh NKRI, seperti Soekarno, Natsir, Hatta, Syafrudin Prawiranegara, dan tokoh-tokoh nasional lainnya adalah salah satu contoh dari segelintir kesuksesan pemimpin bangsa yang visioner, cerdas, dan memiliki attitude yang patut di contoh, digugu dan ditiru.
Kepemimpinan adalah faktor utama kunci kesuksesan suatu organisasi serta manajemen. Kepemimpinan adalah entitas yang mengarahkan kerja para anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan yang baik akan diyakini mampu mengikat, mengharmonisasi, serta mendorong potensi SDM organisasi agar dapat bersaing secara baik. Konsep kepemimpinan telah banyak ditawarkan para akademisi, politisi, maupun praktisi di bidang keorganisasian dan manajemen. Kepemimpinan tentu saja mengkaitkan aspek individual seorang pemimpin dengan konteks situasi di mana pemimpin tersebut menerapkan kepemimpinan.  Kepemimpinan juga memiliki sifat kolektif dalam arti segala perilaku yang diterapkan seorang pimpinan akan memiliki dampak luas bukan bagi dirinya sendiri melainkan seluruh anggota organisasi. Kepemimpinan juga menjadi salah satu ilmu terapan manajemen yang sangat menarik untuk dibicarakan setiap waktu karena kedinamisannya.
Sebelum memasuki materi kepemimpinan, perlu terlebih dahulu dibedakan konsep pemimpin (leader) dengan kepemimpinan (leadership). Pemimpin adalah individu yang mampu mempengaruhi anggota kelompok atau organisasi guna mendorong kelompok atau organisasi tersebut mencapai tujuan-tujuannya. Pemimpin menunjuk pada personal atau individu spesifik atau kata benda. Sementara itu, kepemimpinan adalah sifat penerapan pengaruh oleh seorang anggota kelompok atau organisasi terhadap anggota lainnya guna mendorong kelompok atau organisasi mencapai tujuan-tujuannya.
Degradasi Moral Bangsa
Tidak dipungkiri bahwa akhir-akhir ini bangsa Indonesia ditimpa berbagai permasalahan baik yang berasal dari domestik hinggga luar negeri, kasus korupsi yang merajalela, kasus pembakaran Masjid oleh Jamaah GIDI di Tolikara, dan berbagai persoalan-persoalan lainnya. Penyebab dari semua permasalahan ini adalah adanya kekurangtegasan pemerintah dalam melihat suatu permasalahan, selain itu adanya kongkalikong para elit politik dalam menyusun setiap anggaran pemerintah, dan memanfaatkannya hanya untuk kepentingan elit politik tersebut. Partai politik juga diyakini belom mampu memberikan contoh yang baik bagi masyarakat, hal ini bisa dilihat pada beberapa kasus korupsi yang menyeret pimpinan partai politk, selain itu kasus sengketa antara DPRD dan Gubenur DKI Jakarta beberapa bulan yang lalu memperlihatkan betapa buruknya potret kepemimpinan tanah air.                                                                                                                                                                                                                                                                                               Terkait dengan itu, Mahasiswa yang notabenenya memiliki tanggung jawab terhadap kondisi negara saat ini sudah selayaknya membahas dan mulai belajar tentang politik, dimana mahasiswa juga memiliki peranan yang sangat strategis yaitu sebagai agen of change dan sudah selayaknya mulAi memikirkan kondis kebangsaan dan kenegaraan yang sedang dirundung oleh berbagai problem politik. Dengan pembelajaran politik sejak dini diharapkan mampu menjadi barometer dalam melahirkan pemimpin yang negarawan, profesional, visioner, memiliki akhlak yang tinggi dan mampu menjawab berbagai persoalan-persoalan yang terjadi selama ini. 
STOP; Sebagai Strategi Pengendali Kekuasaan
Ketika seseorang menjadi pemimpin dalam sebuah lembaga, baik itu swasta ataupun nasional maka bukan tidak mungkin akan terhindar dari nuansa politik. Dengan politik seorang penguasa senantiasa akan berkuasa pada daerah kekuasaannya dan senantiasa selalu ingin mempertahankan kekuasaannya selama mungkin seperti yang terjadi di era Soeharto dlu.
Namun agar kepemimpinan seseorang terhadap suatu wilayah tidak seperti Soeharto, maka strategi STOP akan mampu menjadi penopang pengendali kekuasaan seseorang tersebut.
Stop memiliki singkatan strategy to overcom the powerpul atau dalam bahasa Indonesianya strategi untuk mengatasi penguasa. Istilah ini diperkenalkan oleh Mark Van Vugt dan Anjana Ahuja dalam bukunya yang sangat fenomenal berjudul Natural Leader, dalam buku tersebut penulis tersebut mengungkapkan cara yang paling pantas untuk mengatasi kekuatan penguasa adalah sebagai berikut;
1. Gosip, ternyata tindakan ini memiliki peranan besar dalam mengendalikan kekuasaan seseorang. Gosip adalah cara untuk mempertanyakan karakter seseorang dengan cara menyebarkan desas-desus negatif mengenai seorang pemimpin mengenai kekejian/kehidupan seksnya. Ternyata metode gosip sangat ampuh dalam meruntuhkan kepopuleran mantan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton ketika menjabat sebagai penguasa waktu itu. Ketika itu, beliau di gosipkan berselingkuh dengan pegawai magang di Gedung Putih yang bernama Monica Lewinsky. 2. Diskusi Publik, tidak dipungkiri jika penguasa sudah menampilkan kemelencengan dalam setiap tindakan/kebijakannya maka metode ini juga cukup ampuh digunakan sebagai STOP selanjutnya, melakukan diskusi publik atau kajian-kajian bagaimana cara yang efektif untuk mengontrol kebijakan tersebut dengan mengundang banyak orang. Implementasi modern kegiatan diskusi publik ini adalah sidang Parlemen/Senat, Rapat Umum, dan Rapat Pemegang Saham Tahunan. 3. Satire, Ketika seorang pemimpin terlewat batas dalam kesehariannya maka metode Satire ini memiliki cara yang efektif untuk mengontrol seorang penguasa. Satire adalah kritik langsung masyarakat yang dibumbui humor/canda bahkan ahli Antropologi ternama Kanada Ricard Lee menyebutkan bahwa "humor" dan produknya (tawa) merupakan cara hebat untuk meredakan ketegangan di dalam kelompok dan bisa melancarkan hubungan antara atasan dan bawahan. Bentuk kekinian satire bisa disaksikan pada serial Badut Istana pada media Inggris yang berjudul Have I Got News For You sebuah Panel Show yang mengkritik perilaku politisi setempat. 4. Sikap Ketidakpatuhan, Salah satu tindakan efektif sebagai pengontrol kekuasaan seseorang adalah dengan tidak mengikuti apa yang menjadi bagian (serangkaian) kebijakannya. Dalam kondisi yang lebih kelam, nuansa ketidakpatuhan bisa dilihat dari proses penggulingan seorang untuk turun dari jabatannya, sementara dalam kondisi yang lebih modern ketidakpatuhan dikenal dengan "bassnapping", yaitu penyanderaan manajemen untuk memprotes pengurangan pegawai. 5. Pembunuhan. sikap ini merupakan cara ampuh pengendali kekuasaan seseorang, metode kelima ini bisa disaksikan pada perilaku masyarakat Papua Nugini yang menhabisi/membunuh pemimpinnya (kepala suku) gara-gara sering menyalahgunakan hak istimewanya dalam setiap kebijakan.
Nah kira-kira begitulah cara (metode) pengontrol kekuasaan seorang pemimpin, mulai dari tingkatan paling lembut, sindiran hingga pembunuhan. Semua metode pengontrol kekuasaan/STOP bersifat ekstrem.
Sumber; Anjana, Ahuja & Mark Van Vugt, 2015. Natural Leader; Mengapa Sebagian Orang Menjadi Pemimpin dan yang Lain Menjadi Pengikut?

Ponzi Ekonomi; Prospek Indonesia Di Tengah Instabilitas Global

Dalam dinamika perekonomian modern, ketidakmampuan seseorang atau perusahaan membayar hutang merupakan fenomena yang sangat kompleks yang selalu  mengait-ngaitkannya dengan suatu faktor dengan faktor lainnya. Namun, perilaku semacam ini dikenal dengan istilah Ponzi, dan sejatinya bersifat alamiah.
Nama Ponzi sendiri berasal dari nama seorang  pengusaha mafioso asal Italia Selatan yang bermigrasi ke USA, namanya adalah Charles Ponzi. Beliau berbisnis dengan cara patgulipat usaha yang sama sekali tidak pernah riil sehingga berpotensi  besar mengalami kegagalan dan ketidakmampuannya dalam membayar hutang.
Ponzi Ekonomi pertama kali dipopulerkan oleh Hyman Minsky, seorang ekonom AS yang cukup progresif di bidangnya di era 1919-1996. Sempat dilupakan selama puluhan tahun, akhirnya pemikiran Minsky diakui dan dianggap relevan dengan kondisi perekonomian dunia saat ini terutama oleh para investor Wall Street pasca tragedi subprime mortgage. Sebagai tokoh pemikir ekonomi, Hyman Minsky sangat dipengaruhi oleh tokoh ekonom ternama seperti Schumpeter dan J.M Keynes.
Dalam konteks kekinian, Ponzi sendiri di terminolgikan untuk para pebisnis yang menjalankan usaha dengan cara patgulipat yang sama sekali tidak riil. Metafora ini menggambarkan kondisi perekonomian yang dikelola secara tidak hatihati sehingga berpotensi mengalami kegagalan karena ketidakmampuannya membayar hutang.
Secara garis besar itulah yang tersirat dalam buku "Ponzi Ekonomi; Prospek Indonesia Di Tengah Instabilitas Global". Buku ini ditulis oleh seorang penulis yang sangat populer, A. Prasetyantoko. Beliau sebelumnya pernah menulis buku best seller yang berjudul "Bencana Finansial". Buku yang berisi 200 halaman ini menggambarkan tentang situasi perekonomian global yang terjadi di USA dan krisis di beberapa negara Eropa. Namun secara garis besar membahas tentang perekonomian Indonesia yang sangat menjanjikan untuk berinvestasi, hal ini didasari oleh rekomendasi Morgan Stanley, CLSA, dan Standchart.
Buku yang di tetbitkan oleh Penerbit Buku Kompas (PBK) sangat cocok untuk para mahasiswa, pengamat ekonomi, pelaku usaha (investor), pengambil kebijakan sampai masyarakat awam, karena secara garis besar pembahasannya sangat mudah dibaca, dipahami dan dicerna. (ZH)

Senin, 29 Desember 2014

PENTINGNYA BELAJAR MENDALAMI ILMU EKONOMI

Semenjak manusia pertama “Adam dan Hawa” diturunkan ke bumi dibekali dengan akal dan pikiran, dengan akal pikiran inilah manusia selalu membutuhkan apa yang diinginkan, baik kebutuhan jasmani ataupun rohaninya. Di awal keberadaan Adam dan Hawa di Bumi (mungkin) segala kebutuhannya sangat terpenuhi, namun sejalan dengan beriringan waktu dan perkembangan dunia saat ini kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan manusia agak terbatas terutama dalam pemenuhan jasmaninya, hal ini disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan kebutuhan dengan barang/produk pemuas kebutuhan tersebut. Persoalan-persoalan keterbatasan inilah yang menjadi bahan pembahasan mendasar  dalam ilmu ekonomi, secara umum ilmu ekonomi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang cara mengolah barang (produk/jasa) pemuas kebutuhan agar para penikmat barang (konsumen) tersebut terpenuhi.
Pemikiran tentang perekonomian sebenarnya sudah terlihat berabad-abad tahun lalu, misalnya ketika arab kuno hingga kelahiran nabi bahkan ketika zaman nabi Muhammad SAW berlangsung, perekonomian masyarakat sangat pesat hal ini bisa disaksikan di berbagai aspek kehidupan terutama dalam dunia niaga. Namun seiring perkembangan waktu kemunduran Islam mulai terlihat, situasi ini dimanfaatkan masyarakat Eropa menuju kejayaannya (Renaisance) yang ditandai dengan lahirnya tokoh-tokoh pemikir dibidang ekonomi seperti Adam Smith, John Maynard Keynes, David Ricardo, Joan Violet Robinson, dan masih banyak lainnya. Diantara tokoh-tokoh tersebut tentunya yang paling fenomenal adalah “Adam Smith” dengan karangannya tentang perekonomian yang berjudul “The Nation Of Wealth”, dalam buku tersebut menjelaskan bahwa untuk mencapai suatu keseimbangan pasar (equilibrum) maka tidak diperlukan adanya campur tangan pemerintah, jika pemerintah dibiarkan turun ikut campur tangan maka dalam suatu negara akan terjadi sebuah distorsi yang menyebabkan ketidakseimbangan dan ketidakefisiensi pada perekonomiannya.
Namun beberapa tahun kemudian ketika terjadi “Great Depression” di dunia terutama di daratan Amerika Serikat, teori Adam Smith ini mulai terbantahkan karena perekonomian mengalami kelesuan sehingga dengan proses yang alami masyarakat bereaksi dengan cenderung menahan uangnya secara berlebihan. Hal ini menurut Keynes menyebabkan perputaran uang berhenti dan siklus ekonomi pun lumpuh total. Oleh sebab itu menurut Keynes, diperlukan adanya campur tangan pemerintah untuk mengendalikan sistem perekonomian tersebut.
Pentingnya Belajar Ekonomi
Ekonomi merupakan salah satu ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi terhadap barang dan jasa. Istilah "ekonomi" sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu οἶκος (oikos) yang berarti "keluarga, rumah tangga" dan νόμος (nomos) yang berarti "peraturan, aturan, hukum". Secara garis besar, ekonomi diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "manajemen rumah tangga." Sementara yang dimaksud dengan ahli ekonomi atau ekonom adalah orang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja.
Dengan semakin berkembangnya zaman maka timbullah berbagai permasalahan termasuk dalam bidang ekonomi. Salah satu sumber permasalahan yang umum ditemukan adalah terkait dengan keterbatasan barang, pilihan, dan biaya pengorbanan/kesempatan. Dari ketiga permasalahan tersebut dapat disimpulkan bahwa ekonomi sangatlah penting untuk dipelajari, apalagi jika dikaitkan dengan kemajuan tekhnologi untuk itu ilmu ekonomi sangat urgen untuk dipelajari dan dipahami agar permasalahan-permasalahan tersebut bisa ditanggulangi sebaik mungkin. Lebih jelas berikut beberapa manfaat kongkrit dalam mempelajari ekonomi;
1.      Sebagai pengatur kebutuhan ekonomi manusia.
2.      Berperan dalam meningkatkan pemerataan taraf hidup SDM
3.      Berperan penting dalam mengatur prinsip kebutuhan pokok sosial/ masyarakat.
4.      Mampu melatih seseorang untuk berjiwa sosial dan bersifat teliti (cermat) serta ekonomis.
5.      Dapat melatih seseorang agar mampu mengatur atau mengelola nilai nominal dengan baik dan bijak.
6.      Dapat melatih seseorang untuk mandiri dalam berwirausaha dan mengelola kebutuhanya.

Dari berbagai sumber  

Senin, 22 Desember 2014

PENTINGNYA ASPEK KEPEMIMPINAN DALAM DUNIA USAHA

Pengantar

Setiap usaha diharuskan untuk memiliki pemimpin yang bener-bener berkualitas dan memiliki kapabilitas sesuai dengan bidangnya, salah seorang ilmuan barat pernah menganalogikan seorang pemimpin itu sebagai sebuah ikan, dimana anda ketahui sendiri bahwa ikan pasti membusuk berawal dari kepalanya.

Begitupun jua dengan sebuah perusahaan, jika tidak dipimpin secar baik dan professional maka bias diprediksikan perusahaan tersebut akan kolaps. Untuk itu kepemimpinan dalam wirausaha diperlukan sekali untuk membawa usaha tersebut menjadi survive. Untuk lebih jelasnya berikut akan dibahas apa sih kepemimpinan itu dan bagaimana seharusnya cirri-ciri pemimpin yang baik itu?. Semoga materi ini membantu reader untuk mendapatkan refrensi sesuai dengan harapannya

Makna Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain atau sekelompok orang ke arah tercapainya suatu tujuan organisasi yang telah disepakati bersama sebelumnya.
Kepemimpinan penting sekali bagi pengelolaan usaha karena kepemimpinan adalah modal yang sama pentingnya dengan kepercayaan dan kreativitas, kepemimpinan menggabungkan kreativitas dan kepercayaan menjadi sebuah usaha yan efektif dan berpengaruh luas dan hidup, usaha yang dibangun tanpa kepemimpinan, hanya akan menjadi usaha yang tidak berkembang (Stagnan).
 Dengan adanya kepemimpinan yang bagus niscaya akan membentuk usaha anda makin berkembang dan menjadi besar serta banyak orang mau bekerja untuk anda, kepemimpinan dibentuk secara bertahap, sejalan dengan tumbuhnya usaha (kombinasi dari pengetahuan, pengalaman, ketrampilan, cara mengarahkan dan penerimaan), kepemimpinan sangat penting dalam krisis untuk membuat setiap pegawai dan semua orang yang terlibat dalam usaha anda percaya bahwasanya anda tidak panik, menjadi tempat last resort solusi atas semua permasalahan dan menjadi panutan.
Unsur utama yang mencakup dan mempengaruhi bidang kepemimpinan, unsure tersebut ada 3, yaitu :
a.      Kepemimpinan Melibatkan Orang Lain. Seorang wirausaha akan berhasil apabila dia berhasil memimpin karyawannya atau pembantu-pembantu yang mau berkerjasama dengan dia untuk memajukan perusahaan.
b.      Kepemimpinan Menyangkut Distribusi Kekuasaan. Para wirausaha mempunyai otoritas untuk memberikan sebagian kekuasan kepada karyawan atau seorang karyawan diangkat menjadi pemimpin pada bagian tertentu
c.      Kepemimpinan Menyangkut Penanaman Pengaruh Untuk Mengarahkan Bawahan. Seorang wirausaha juga harus dapat memberi contoh yang baik bagaimana melaksanakan pekerjaan sesuai dengan yang diperintahkan Seorang pemimpin harus mempunyai keterampilan Technical Skill yaitu kemampuan untuk melakukan pekrjaan-pekrjaan yang bersifat operasional atau teknis, Human Skill yaitu kemampuan bekerja sama dengan para bawahan dan membangun tim kerja dengan pendekatan kemanusiaan, Conceptual Skill yaitu kemampuan yang menyusun konsep dan mengungkapan pikirannya.
Keberhasilan atau efektifitas kepemimpinan tidak sajalah diukur bagaimana memberdayakan bawahannya tapi uga kemampuannya menjalankan atau melaksanakan kebijakan perusahaan melalui cara atau gaya kepemimpinannya. Pola atau gaya kepemimpinan sangat tergantung pada karakteristik individu pemimpin menghadapi bawahan berdasarkan fungsinya sebagai atasan.
Tidak ada gaya kepemimpinan yang paling baik, karena gaya kepemimpinan haruslah fleksibel dan harus disesuaikan dengan perilaku, sistem nilai yang dianut bawahan, situasi lingkungan, kematangan dan situasi bawahan. Seorang pemimpin yang berhasil dan efektif bila dapat melakukan gaya kepemimpinan yang tepat pada situasi yang tepat. Terdapat kriteria perilaku kepemimpinan yang dapat menentukan gaya kepemimpinan pengusaha adalah:
a.            Gaya Kepemimpinan Diktator
Pada kepemimpinan diktator atau otokratis, pemimpin membuat keputusan sendiri karena kekuasaan terpusatkan dalam diri satu orang. Pemimpin tersebut memikul tanggung jawab dan wewenang penuh. Pengawasan bersifat ketat, langsung dan tepat. Keputusan dipaksakan dengan menggunakan imbalan dan kekhawatiran akan dihukum. Jika ada, maka komunikasi bersifat turun kebawah. Bila wewenang dari pemimpin diktator bisa menjadi otokrat kebapak-bapakan.
b.           Gaya Kepemimpinan Partisipasi
Pola kepemimpinan partisipasi adalah pola kepemimpinan dimana atasan memotivasi bawahan untuk berperan serta dalam organisasi terutama dalam pengambilan keputusan sehingga akan mendatangkan gairah bagi para bawahan. Pada kepemimpinan ini pendelegasian wewenang sangat diutamakan, sedangkan komunikiasi berjalan baik untuk mencari solusi dalam setiap permaslahan yang ada. Pada kepemimpinan partisipasi, pemimpin cenderung memberikan perhatian kepada bawahan dan pekerjaan sehingga komunikasi berjalan berbagai arah (situasional dan diagonal). Kepemimpinan partisipasi ini tidak efektif bila bawahan tidak menunjang keberhasilan perusahaan karena bawahan tidak matang. Davis (1997) dalam Dalimunthe (2002: 80) menyatakan partisipasi adalah keterlibatan dan emosional dari orang-orang dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk memberikan sumbangan pada tujuan kelompok dan ikut serta bertanggungjawab.
c.            Gaya Kepemimpinan Delegasi
Mendelegsaikan adalah memberi tanggung jawab sepenuhnya kepada bawahan untuk mengerjakan suatu pekerjaan dan meminta pertanggungan jawab dari pelaksanaan pekerjaan. Seorang pemimpin berhak mendelegasikan wewenang kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, pemimpin menyerahkan tanggung jawab atas pelaksanaan tugas dan penyelesaian pekerjaan. Pimpinan tidak akan membuat peraturan-peraturan tentang pelaksanaan pekerjaan tersebut, dan hanya melakukan sedikit kontak dengan bawahan.
d.           Gaya Kepemimpinan Konsiderasi
Konsiderasi yang diberikan oleh pimpinan merupakan faktor yang penting dalam mencapai tujuan organisasi. Sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuan memberikan perhatian pada bawahan, agar menghasilkan kerja yang optimal. Konsiderasi yang diberikan merupakan motivasi kepada para bawahan untuk lebih giat bekerja sehingga prestasi kerjanya akan lebih baik. Para bawahan yang satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan, perbedaan ini seringkali didasarkan oleh tujuan dan kebutuhan masing-masing yang berbeda dari bawahan.
Kewirausahaan
Kata entrepreneurship yang dahulunya sering diterjemahkan dengan kata kewiraswastaan akhir-akhir ini diterjemahkan dengan kata kewirausahaan. Entrepreneur berasal dari bahasa Perancis yaitu entreprendre yang artinya memulai atau melaksanakan. Wiraswasta atau wirausaha berasal dari kata: Wira yaitu utama, gagah berani, luhur; Swa: sendiri; Sta: berdiri; dan Usaha: kegiatan produktif. Hisrich, Peters, dan Sheperd (2008:h 10) mendifinisikan “Kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatuyang baru pada nilai menggunakan waktu dan upaya yang diperlukan, menanggung risiko keuangan, fisik, serta risiko sosial yang mengiringi, menerima imbalan moneter yang dihasilkan, serta kepuasan dan kebebasan pribadi”.
Kewirausahaan dapat didefinisikan sebagai pengambilan risiko untuk menjalankan usaha sendiri dengan memanfaatkan peluang-peluang untuk menciptakan usaha baru atau dengan pendekatan yang inovatif sehingga usaha yang dikelola berkembang menjadi besar dan mandiri dalam menghadapi tantangan-tantangan persaingan (Nasrullah Yusuf, 2006). Kata kunci dari kewirausahaan adalah:
a.         Pengambilan resiko
b.         Menjalankan usaha sendiri
c.         Memanfaatkan peluang-peluang
d.         Menciptakan usaha baru
e.         Pendekatan yang inovatif
f.          Mandiri

Kepemimpinan dalam Kewirausahaan
Kepemimpinan adalah proses mengarahkan perilaku orang lain kearah pencapaian suatu tujuan tertentu. Pengarahan dalam hal ini berarti menyebabkan orang lain bertindak dengan cara tertentu atau mengikuti arah tertentu. Wirausahawan yang berhasil merupakan pemimpin memimpin para karyawannya dengan baik. Seorang pemimpin dikatakan berhasil jika percaya pada pertumbuhan yang berkesinambungan, efisiensi yang meningkat dan keberhasilan yang berkesinambungan dari perusahaan.
Perbedaan Antara Manajer Dan Pemimpin
Manajemen bertujuan menyelenggarakan sebuah proses yang mapan dan berhasil dengan seefisien mungkin, menyingkirkan kemajemukan dan risiko. Manajemen orang cenderung memiliki pendekatan yang sama, dengan sebuah system pemberian imbalan dan hukuman. Kepemimpinan berkenaan dengan perubahan untuk mencapai sebuah visi jangka panjang baru untuk perusahaan. Kepemimpinan selalu tidak bisa meninggalkan keterlibatan risiko. 
Perbedaan antara Pemimpin dengan Manajer :
Pemimpin
Manajer
Diangkat oleh pengikut
Diangkat oleh kekuasaan
Mengandalkan kewibawaan personal
Mengandalkan kewibawaan posisi
Bergerak sebagai pencetus ide
Bertindak sebagai penguasa
Bertanggung jawab pada bawahan
Bertanggung jawab pada atasan
Bagian dari pengikut
Bagian dari organisasi
Membangkitkan kepercayaan
Bergantung kepada pengawasan
Melihat perspektif jangka panjang
Melihat jangka pendek
Apa dan mengapa
Bertanya kapan dan bagaimana
Menatap masa depan
Melihat hasil pokok
Melahirkan
Meniru
Menantangnya
Menerima status quo
Menginovasi
Mengelola
Orisinal
Tiruan
Mengembangkan
Mempertahankan

Kepemimpinan Awal Dan Kepemimpinan Kontemporer
Kepemimpinan Awal
Teori kepemimpinan awal berfokus pada pemimpin (teori ciri) dan cara pemimpin berinteraksi dengan anggota kelompok (teori perilaku). Enam ciri terkait kepemimpinan  yang efektif, yaitu dorongan, kehendak untuk memimpin, kejujuran dan integritas, kecerdasan, kepercayaan diri, dan pengetahuan terkait pekerjaan.
Beberapa Teori Kepemimpinan Awal :
Pertama, Gaya Demokratis : melibatkan bawahan, mendelegasikan wewenang diantara masing-masing jabatan, mendorong partisipasi setiap karyawan.
Kedua, Gaya otokratis: mendiktekan metode kerja, membatasi partisipasi setiap karyawan.
Ketiga, Gaya Laissez Faire: memberikan kebebasan pada kelompok untuk membuat keputusan.
Kepemimpinan Kontemporer
Kepemimpinan kontemporer lebih menekankan kepada “pembentukan perilaku”. Pembentukan perilaku lebih menggunakan kata-kata, gagasan, dan kehadiran fisik untuk mengendalikan bawahan. Ada beberapa teori kontemporer dalam kepemimpinan yang dapat disampaikan disini, yaitu Teori atribusi kepemimpinan, Kepemimpinan kharismatik, dan Kepemimpinan transformasional.
Teori Atribusi Kepemimpinan mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan pemimpin mengelola sifat-sifat/ciri/latarbelakang orang-orang yang dipimpinnya sehingga dapat dipengaruhi untuk melakukan sesuatu demi kepentingan organisasi. Untuk mencapai kepemimpinan yang efektif seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perilaku para bawahannya, ia mutlak perlu mengenali karakteristik, kepentingan, kebutuhan, kecenderungan perilaku dan kemampuan mereka. Melakukan hal tersebut jelas tidak mudah karena sesungguhnya manusia adalah mahluk yang sangat kompleksitas. Kemampuan kepemimpinan yang fenomenal dan cerdas merupakan dasar pemikiran dari teori atribusi kepemimpinan.
Pengertian Atribusi adalah :Suatu sifat yang menjadi cirri khas suatu benda atau orang atau dapat pula diartikan sebagai suatu proses bagaimana seseorang atau seorang pemimpin mencari kejelasan sebab-sebab dari perilaku orang lain atau bawahan.Atribusi juga merupakan sebuah teori kognitif yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana seorang manajer atau pimpinan menginterpretasikan informasi mengenai kinerja seorang bawahan dan memutuskan bagaimana akan bereaksi terhadap bawahan tersebut. Persepsisosial yang menjelaskan apa yang ada di balik gejala/sikap/perilaku yang tampak secara inderawi pada individu. Atribusi disposesi adalah kemampuan, keterampilan atau motivasi internal pada individu yang secara umum diidentifikasikan dengan perilaku seseorang/individu.
Kepemimpinan Kharismatik – Visioner. Pemimpin yang antusias, dan percaya diri yang kepribadian dan tindakannya mempengaruhi orang untuk berperilaku dengan cara tertentu.  Karisma merupakan sebuah atribusi yang berasal dari proses interaktif antara pemimpin dan para pengikut. Atribut-atribut karisma antara lain rasa percaya diri,  keyakinan yang kuat, sikap tenang, kemampuan berbicara dan yang lebih penting adalah bahwa atribut-atribut dan visi pemimpin tersebut relevan dengan kebutuhan para pengikut. Pemimpin yang melampaui karisma karena kemampuannya menciptakan dan menyatakan visi yang realistis, layak dipercaya, dan menarik mengenai masa depan.
Kepemimpinan Transformasional. Kemimpin yang memberi inspirasi untuk bertindak melebihi kepentingan pribadi demi organisasi. Pemimpin pentransformasi (transforming leaders) mencoba menimbulkan kesadaran para pengikut dengan mengarahkannya kepada cita-cita dan nilai-nilai moral yang lebih tinggi.
Pemimpin Transaksional. Pemimpin yang membimbing  atau memotivasi pengikutnya menuju sasaran yang ditetapkan dengan memperjelas atau persyaratan tugas.
Pengertian Faktor X
Faktor X yang dimaksud disini adalah factor – factor lain, selain factor yang datangnya bukan dari dalam diri kita sendiri. Misal, seperti factor luck atau keberuntungan, do’a, dll. Keberuntungan atau dewi fortuna ini memang berpengaruh dalam kehidupan kita dan setiap aktivitas yang kita lakukan. Misal,saat termasuk perkuliahan, banyak orang – orang yang berlomba untuk lulus test perkuliahan. Banyak orang yang pandai yang ikut test tersebut tetapi justru kebalikannya, orang – orang yang biasa (tidak terlalu pintar) yang berhasil lolos dalam test tersebut. Amal, do’a, keberuntungan dan lain – lain juga sangat berperan kita untuk mencapai suatu kesuksesan.
Semua hal di atas saling berhubungan dan saling mempengaruhi seseorang dalam mencapai kesuksesannya. Jika kita hanya punya potensi tetapi tidak mempunyai keyakinan sama saja bohong atau kita akan gagal dan tidak akan menjadi orang yang sukses, begitu juga yang lain. Oleh karena itu kita harus punya semua hal di atas untuk menjadi orang sukses.
Menemukan Dan Menggali Faktor X
Untuk menemukan dan menggali faktor X, hal-hal yang harus dilakukan yaitu :
Pertama, potensi Menemukan ‘Pintunya’. Malcom Gladwell (2008) yang meneliti tentang kesuksesan manusia menemukan karya-karya besar ternyata tidak ditentukan oleh tingginya skor IQ yang dimiliki manusia, latar belakang keluarga, tanggal lahir, darah biru atau bukan, melainkan oleh dedikasi suci dalam mencari pintu keluar dari berbagai labirin kesulitan.  Ia menyebut dedikasi itu sebagai suatu kecerdasan praktis. Talenta atau bakat itu hanyalah sebuah kesempatan, namun untuk menjadi ”sesuatu”, bakat itu harus diasah agar ia mengeluarkan aura cahayanya dan menemukan pintunya (Maxwell, 2007).
Kedua, memancing keberuntungan. Hoki atau keberuntungan tak akan datang tiba-tiba. Seperti yang banyak dipelajari dari praktek-praktek penerapan ilmu keberuntungan China (fengshui), keberuntungan harus dipancing agar ia mau datang. Demikianlah dalam kehidupan spiritual kita, Tuhan yang maha pengasih pun mendengarkan doa manusia yang tulus, yang terus mengetuk-ngetuk pintunya dan menunjukkan keseriusan dalam berusaha. Dan keberuntungan hanya datang pada orang-orang yang siap, yang sejak awal cocok menerimanya. Itulah yang disebut ”pintu” oleh Maxwell atau kecerdasan praktis oleh Gladwell, atau dedikasi suci.
Ketiga, bakat menemukan pintunya. “Faktor X” itu melekat ada diri Anda masing-masing dan baru menjadi “faktor X” kalau ia berhasil menemukan pintunya maka temukan dan ketuklah pintu-pintu itu. Sikap Anda terhadap “pintu” itu akan tercermin pada apa yang Anda dapatkan. Dalam berwirausaha, seorang pemula dapat diibaratkan sebagai seseorang yang mencari pintu. Sukses yang dicapainya adalah sebuah keberhasilan menemukan pintu yang sesuai dengan minat dan masa depannya. Untuk “menemukan” pintu itu ia harus mengetuk-ngetuk dan menemukannya. Ia melawan rasa nyaman sampai benar-benar mendapatkan jawaban yang setimpal.
Keempat, temukan “X” Kecil dan “X” Besar. Faktor “X” adalah sesuatu yang harus kita cari dan kita miliki. Ia akan menemani siapa saja yang ingin berubah, menjadi lebih baik. Orang yang tidak ingin berubah juga memiliki faktor “X”, namun itu hanyalah “X” Kecil yang berarti sebuah kenyamanan. Ia sudah nyaman dengan kondisi sekarang dan tentu saja hidupnya tidak akan mengalami kemajuan. Entrepreneur adalah orang yang merasa hidupnya kurang nyaman, terancam, miskin atau kurang bermakna. Ia berjuang mengejar kenyamanan baru. Ia bergerak, berjalan, berpikir, mengetuk pintu, mengambil resiko, mencari produk, membuat, membangun usaha, mendatangi pelanggan. Faktor “X” yang melekat dengan diri kita itu adalah benda tak berwujud, namun dapat dirasakan. Awalnya ia tidak berada pada diri Anda, atau kecil sekali. Namun kalau kita tekun ia akan terus tumbuh karena ia hidup. Dan karena ia hidup, ia pun dapat menjadi mati. Ia akan hidup kalau kita menjaga kepercayaan, menumbuhkan kreatifitas dan keahlian, dan memberi banyak oksigen dari lingkungan yang bersih. Ia akan mati kalau kita main-main dengan kepercayaan, berperilaku arogan, menentang pembaharuan, dan membiarkan terjadi penuaan.
Kelima, identifikasikan faktor “X”. X besar ada di tangan orang dewasa, yaitu orang-orang yang sudah memiliki kepercayaan pasar. Sedangkan “X” kecil ada pada diri kita masing-masing. Bentuk “X” pun macam-macam. Ia dapat berasal dari diri Anda sendiri, orang lain, lembaga lain, dan sebagainya. Darimanapun sumbernya, ia bisa tumbuh menjadi besar dan sebaliknya. “X” yang berasal dari diri sendiri adalah bakat (talenta), kerja keras, kejujuran, kecerdasan, keterampilan, penampilan fisik Anda, kualitas suara, pendidikan.

Rabu, 03 Desember 2014

MASALAH DUALISME PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

Latar Belakang
Saat ini dunia mengalami perkembangan yang sangat pesat, hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin maju dan kompleks, kemajuan ini ditandai dengan adanya pembangunan dimana-mana yang membentuk peradaban, tak terkecuali Indonesia. saat ini saja negara yang memiliki penduduk sekitar 240 juta jiwa ini masuk dalam kategori negara BRITIS (Brazil, Rusia, Indonesia, Tiongkok, India, dan Swiss)yaitu negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia.
Secara teori dengan adanya kenaikan pertumbuhan ekonomi negara ini otomatis secara akan terjadi kenaikan nominal upah dari tahun ke tahun sehingga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat (pekerja), namun dengan kenaikan tarif harga  BBM, TDL, dan kebutuhan pokok lainnya maka pertumbuhan ekonomi ini bisa menjadi sia-sia karena disebabkan oleh terjadinya disparitas upah nominal pekerja dengan biaya kebutuhan riil yang semakin tinggi. Kondisi seperti ini diperparah lagi dengan kondisi Gini Ratio Indonesia yang terus meningkat menjadi 0,413% (Data BPS 2014), artinya 41,3% kekayaan Indonesia hanya dikuasai oleh 1% orang terkaya. Kondisi seperti inilah yang dimaksud dengan Dualisme Pembangunan. Dualisme pembangunan adalah Dua kondisi yang berbeda, hidup berdampingan dalam masyarakat, satu bersifat superior – lainnya inferior, dalam beberapa hal saling bertentangan (yang satu merugikan lainnya, dan sebaliknya), bersifat kronis (bukan sementara sifatnya).
Teori dualisme pertama kalinya dikemukakan oleh seorang ekonom Belanda, J.H. Booke. Teorinya berasal dari suatu fenomena dimana konsep ekonomi barat yang dibawa dan diterapkan oleh para penjajah ternyata tidak mampu untuk mensejahterakan rakyat jajahannya (dalam hal ini rakyat Indonesia). Negara eks jajahan memiliki pola dan sistem sosial yang berbeda dengan Negara barat. Pada awalnya pola dan sistem sosial barat memiliki daya penetrasi yang cukup kuat untuk masuk ke dalam sistem sosial Negara jajahannya. Tetapi memang pada dasarnya adalah berbeda, tidak mungkin untuk disama-samakan penetrasi yang dilakukan ternyata kurang bermakna dan menyongkong satu dengan lainnya. Semuanya kelihatan semu, cantik di luar namun ada borok di dalamnya. Tidak menyembuhkan penyakit yang sesungguhnya.
Pengertian Dualisme
Dualisme adalah ajaran atau faham yang memandang alam ini terdiri atas dua macam hakekat yaitu hakekat materi dan hakekat rohani. Kedua macam hakekat itu masing-masing bebas berdiri sendiri, sama azazi dan abadi. Perhubungan antara keduanya itu menciptakan kehidupan dalam alam. Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakekat ini adalah terdapat dalam diri manusia. Jadi, dualisme adalah perbedaan antara bangsa kaya dan miskin. Perbedaan antara berbagai golongan masyarakat yang semakin meningkat.
Dualisme merupakan suatu konsep yang sering dibicarakan dalam ekonomi pembangunan, terutama kalau kita membicarakan kondisi sosial-ekonomi di NSB. Konsep ini menunjukan adanya perbedaan antara bangsa-bangsa kaya dan miskin, dan perbedaan antara berbagai golongan masyarakat yang semakin meningkat. Pada dasarnya, konsep dualisme mempunyai empat karakteristik pokok yaitu:
1.             Dua keadaan yang berbeda dimana satu keadaan bersifat superior (di atas rata-rata, lebih baik) dan keadaan lainnya bersifat inferior (rendah mutunya, kurang cerdas) yang hidup berdampingan pada ruang dan waktu yang sama.
2.             Kenyataan hidup berdampingan dua keadaan hidup yang berbeda tersebut bersifat kronis dan bukan transisional.
3.             Derajat superioritas atau inferioritas itu tidak menunjukan kecenderungan yang menurun, bahkan terus meningkat.
4.             Keterkaitan antara unsur superior dan unsur inferior tersebut menunjukan bahwa keberadaan unsur superior tersebut hanya berpengaruh kecil sekali atau bahkan tidak berpengaruh sama sekali dalam mengangkat derajat unsur inferior.
Jenis Dualisme
Dualisme Sosial, Suatu pertentangan sistem sosial yang diimpor dengan sistem sosial pribumi yang memiliki corak berbeda. Dualisme ini merupakan temuan dari seorang ekonom Belanda. J. H. Booke, tentang sebab-sebab kegagalan dari kebijakan (ekonomi) kolonial Belanda di Indonesia pada jaman penjajahan. Prinsip pokok tesis Booke adalah pembedaan antara tujuan kegiatan ekonomi di Barat dan Timur secara mendasar. Ia mengatakan bahwa kegiatan ekonomi di Barat lebih didasarkan pada rangsangan kebutuhan ekonomi, sedangkan di Indonesia lebih disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan sosial. Secara tajam ia mengkritik usaha-usaha dalam menjelaskan proses pengalokasian sumberdaya atau distribusi pendapatan dengan cara menggunakan teori produktivitas marjinal dari kaum Neo Klasik, terutama sekali karena adanya immobilitas sumberdaya dalam masyarakat Timur.
Berbicara mengenai konsep dualismenya sendiri, Booke mengawali penjelasannya dengan mengatakan bahwa perspektif ekonomi, masyarakat memiliki tiga ciri, yaitu adanya semangat sosial, bentuk organisasi, dan tekhnologi yang mendominasinya. Saling ketergantungan dan saling keterkaitan antara ketiga crri tersebut disebut sistem social atau gaya sosial.
Secara khusus, Mackie (1981) dengan tegas mengatakan bahwa teori dualisme (Booke) tidak banyak membantu, bahkan cenderung menghambat usaha mempelajari perekonomian di Indonesia. Namun demikian, dia juga heran mengapa teori yang dianggap “salah” oleh banyak sarjana ekonomi itu terus-menerus dibicarakan dalam hubungannya dengan perekonomian Indonesia
Sementara itu, para sosiolog dan antropolog menyatakan bahwa kalau memang dalam suatu masyarakat terdapat dualisme, maka sifat tersebut tidak akan hilang begitu saja dengan adanya proses pembangunan ekonomi. Itulah sebabnya, Clifford Geertz (1963) mengenalkan konsep dualisme yang lain yaitu dualisme ekologis.
Dualisme Ekologis
Suatu perbedaan dalam sistem ekologis yang menggambarkan pola-pola sosial ekonomi yang menyatu dalam keseimbangan internal. Pada tahun 1963, Cliffrord Greetz mengenalkan konsep tersebut. Menurut Greetz, dualisme ditandai oleh perbedaan-perbedaan dalam sistem ekologis. Setiap sistem ekologis tersebut menggambarkan pola-pola sosial dan ekonomi tertentu yang menyatu di dalamnya dan membentuk suatu keseimbangan internal. Greetz menggambarkan adanya stabilitas dualisme  tersebut menunjukan bahwa dualisme prakolonial di Indonesia semakin menguat dengan adanya intervensi colonial, bukannya semakin menurun atau berkurang.
Greetz menjelaskan konsepnya tentang dualisme ekologis ini dengan menggunakan kasus Indonesia. Ia menjelaskan tentang adanya perbedaan antara “Indonesia Dalam” dan “Indonesia luar”. “ Indonesia Dalam , dalam hal ini diinterpretasikan oleh jawa, merupakan sistem ekologis padat karya yang dintandai oleh pertanian padi, tebu, dan tanaman lainnya yang membutuhkan kondisi iklim tropis dan semi tropis dan membutuhkan banyak air. Sementara “Indonesia luar” ditandai oleh pertanian yang padat tanah dan padat modal, produk padat karya, seperti produk tambang, karet, dan kelapa sawit .

Dualisme Teknologi
Benjamis Higgins (1956) mempertanyakan kesahihan dari observasi empiris Boeke dan menunujukan contoh yang lebih khusus mengenai kegunaan kerangka analisis ekonomi barat dalam menghadapi apa yang dikemukakan Boeke. Higgins- yang secara eksplisit menolak dualisme sosialnya Boeke – berargumen bahwa asal mula dualisme adalah adanya perbedaan teknologi antara sektor modern dan sektor tradisonal.
Menurut Higgins, sektor modern terpusat pada produksi komuditas primer dalam pertambangan dan perkebunan. Sektor modern itu mengimpor teknologinya dari luar negri. Teknologi impor yang digunakan dalam sektor modern tersebut bersifat hemat tenaga kerja (Labour saving) di mana secara relatif modal yang digunakan keadaan ini berbalikan dengan keadaan pada sektor tradisonal yang ditandai oleh besarnya kemungkinaan untuk mengganti modal dengan tenaga kerja serta penggunaan metode produksi yang padat tenaga kerja (Labour intensive). Perkambangan sektor modern terutama sekali sebagai respon terhadap pasar luar negeri dan pertumbuhannya hanya mempunyai dampak yang kecil terhadap perkonomian lokal. Sedangkan perkambangan sektor tradisional sangat terbatas karena kurangnya tabungan (pembentukan modal).
Dengan kata lain, dualisme teknologi adalah suatu keadaan di mana dalam suatu kegiatan ekonomi tertentu digunakan teknik produksi dan organisasi produksi yang modern yang sangat bebeda dengan kegiatan ekonomi lainnya dapat akhirnya akan mengakibatkan timbulnya perbedaan tingkat produktivitas yang sangat besar.
Dualisme Finansial
Hla Myint (1967) meneruskan studi Higgins tentang peranan pasar modal dalam proses dualisme. Myint membuat analisis mengenai pasar uang yang terdapat di NSB dapat menunjukan adanya Dualisme Finansial. Pengertian Dualisme Finansial ini menunjukan bahwa pasar uang di NSB dapat dipisahkan ke dalam dua kelompok, yaitu:
a.         Pasar uang yang terkelola dangan baik (organized money market), Pasar uang ini meliputi bank-bank komersil dan badan-badan keuangan lainnya.        Hal ini terutama terdapat di kota-kota besar dan pusat-pusat perdagangan.
b.         Pasar uang yang tidak terkelola(unorganized money market). Unorganized money market adalah bentuk pasar uang yang bukan berbentuk institusional, terdiri dari tuan-tuan tanah, pedagang-pedagang perantara. Biasanya pasar uang jenis ini lebih menonjol untuk daerah pedesaan yang terkenal dengan rentenir dan sistem ijon. Adanya kebutuhan yang mendesa akan uang mengakibatkan cara tersebut yang mudah dijangkau oleh masyarakat di pedesaan.

Dualisme Regional    
Dualisme Regional ini banyak dibicarakan para ahli sejak tahun 1960-an. Pengertian Dualisme ini adalah ketidakeseimbangan tingkat pembangunan antar berbagai daerah dalam suatu negara. Ketidakeseimbangan ini sebenarnya terdapat juga di negara-negara maju, namun keadaan tidaklah separah seperti yang terjadi di NSB. Selain itu, di negara- negara maju ketidakeseimbangan ini cenderung betambah kecil.
Dualisme Regional ini dapat mengakibatkan bertambah lebarnya kesejangan (gap) tingkat kesejahteraan antar berbagi daerah. Selain itu rualisme Regional yang semakin buruk juga dapat menimbulkan masalah-masalah sosial-politik yang dapat menghambat usaha untuk mempercepat lajunya pertumbahan ekonomi di NSB. Di indonesia, kesejangan regional ini bahkan menimbulkan isu tentang saparatisme di republik ini. Pada dasarnya, dualisme regional yang terjadi di NSB dapat di bedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1.             Dualisme antara daerah perkotaan dan perdesaan
2.             Dualisme antar pusat negara, pusat industri dan perdagangan daerah-daerah lain dalam Negara tersebut.

Kedua jenis Dualisme tersebut timbul terutama sekali sebagai akibat dari adanya investasi yang tidak seimbang antara daerah industri (perkotaan) dengan daerah pertaniaan (perdesaan). Ketidakseimbangan tersebut pada akhirnya memicu timbulnya kesenjangan antara pusat negara dengan daerah-daerah lainnya, atau antara daerah perkotaan dengan daerah perdesaan. Berikut ini di bahas kondisi dualisme regional di indonesia yakni  antara Jawa dan luar  Jawa serta Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Berbagai kondisi ketertinggalan KTI dibandingkan KBI dapat dilihat dari dua jenis ketimpangan yaitu :
1.             Ketimpangan Ekonomi, Selama ini pendapatan parkapita KTI selalu berada di awah rata-rata pendapatan per kapita nasional
2.             Ketimpangan Infrastruktur, Ketersediaan prasarana dan sarana fisik yang kurang memadai.
Adanya dua jenis ketimpangan tersebut, menimbulkan dampak pada penyebaran populasi penduduk, dan mengakibatkan perbedaan kinerja pembangunan wilayah antara KBI dan KTI, sebuah studi mengenai daya siang daerah  (Regional competitiveness) dari Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan, Bank Indonesia (2002) telah mengukur kinerja 26 privinsi di Indonesia, dengan menggunakan 9 indikator daya saing daerah, yaitu: (1) perkonomian daerah, (2)keterbukaan, (3) sistem keuangan, (4) infrastruktur dan SDA, (5) IPTEK, (6) SDM, (7) kelembagaan, (8) governance dan kebijakan pemerintah, serta (9) menajemen dan ekonomi mikro.
Dapat disimpulkan, bahwa dimensi ruang (spasial) dalam pendekatan pembangunan sebenarnya tidak hanya memandang daerah sebagai bagian dari ruang sub-nasional, namun juga bagaimana daerah dapat berinteraksi satu sama lain (interregional linkage) yang pada akhirnya mampu menciptakan sebuah sinergi.

Pengaruh dualisme terhadap pembangunan
Berbagai corak hambatan yang timbul sebagai akibat dari adanya sifat-sifat dualisme dalam perekonomian yang perkembangannya masih belum begitu tinggi bersumber dari adanya pengaruh yang masih kuat dari sektor-sektor tradisional terhadap kehidupan seluruh masyarakat dan kegiatan perekonomian. Sebagai besar kegiatan ekonomi dalam NSB yang relatif miskim masih dilaksanakan dengan menggunakan teknik yang masih tradisional pula. Teknik-teknik yang masih sangat sederhana menyebabkan produktivitas berbagai kegiatan rendah, dan pola pikir teradisional menyebakan usaha-usaha untuk mengadakan perubahan atau pembaharuan sangat terbatas. Dengan demikian, sektor yang memiliki cara produksi tradisional dan produkvitas rendah tidak akan mengalami perubahan yang berarti dari masa ke masa.
Dalam suatu masyarakat tradisional, umumnya terdapat sifat-sifat berikut:
1.      Taraf pendidikan sebagian masyarakatnya masih sangat rendah.
2.      Cara hidup dan pola pikir masyarakatnya masih dipengaruhi oleh nilai agama, dan adat istiadat, pandangan hidup mereka yang pasrah terhadap kekuasaan alam dan tuhan.
3.      Sisa-sisa feodalisme masih sangat di rasakan dalam hubungan sosial di antara berbagai golongan masyarakat.
Ciri-ciri masyarakat tradisional tersebut menimbulkan ketidaksempurnaan pasar. Sikap masyarakat juga dianggap memicu timbulnya ketidaksempurnaan pasar di NSB. Berbagi macam keadaan yang menimbulkan ketidaksempurnaan pasar seperti yang baru saja diuraikan, menyebabkan sumberdaya-sumberdaya yang terdapat di NSB tidak dapat digunakan secara efisien. Hal ini bukan saja menimbulkan penggangguran para berbagai sumberdaya, tetapi juga mengakibatkan penggunaan sumberdaya tersebut tidak selalu diarahkan kepada sektor dan kegiatan yang potensi pekembangannya relative lebih baik.
Di samping adanya beberapa pengaruh negative dari adanya Dualisme sosial terhadap pembangunan, sering dinyatakan pula Dualisme dalam tingkat teknologi yang di gunakan dapat menimbulkan dua keadaan yang mungkin mempengaruhi lajunya tingkat pembangunan ekonomi.
Pertama , Dualisme teknologi terlahir sebagai akibat dari penguasaan modal asing atas sektor modern, sebagai besar keutungan yang diperoleh modal asing tersebut akan dibawa ke luar negeri.
Kedua, Dualisme teknologi akan membawa tiga dampak negatif, yaitu: (1) membatasi kemampuan sektor modern dalam menciptakan kesempaan kerja, (2) membatasi kemampuan sektor pertanian untuk berkembang, (3) memperburuk masalah pengangguran. Sehingga, meskipun pada prinsipnya pembangunan itu bertujuan untuk menigkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat, namun realitanya manfaat pembangunan seringkali dinikmati oleh segolongan kecil penduduk di NSB, seperti: (1) jurang tingkat pendapatan antara golongan kaya dan miskin semakin bertambah lebar, (2) pembangunan belum sanggup menciptakan kesempatan kerja yang seimbang dengan pertambahan tenaga kerja, sehingga tingkat pengangguran semakin buruk.