Rabu, 17 Desember 2014

FAKTA MENCENGANGKAN BAHASA INDONESIA

Pagi btother...!!!!
Sebelumnya admin pernah ngeposting mengenai dorongan agar bahasa Indonesia dijadiin sebagai bahasa resmi ASEAN, nah saat ini agak nyambung dengan apa yang admin posting sebelumnya. Namun postingan ini benar atau tidak? Cukup anda yang menilai.
Indonesia memiliki 240 juta jiwa dan jumlah penduduk yang besar ini sangat berpeluang menjadi negara no 1 dia. Dibalik itu juga ada fakta mencengangkan dari dari bahasa Indonesia, pengin tau fakta tersebut? Yuk pantengin isi artikel berikut;
1. Ada 45 Negara di dunia yang mempelajari bahasa Indonesia
2. Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi kedua dari vietnam.
3. Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi ASEAN
4. Wikipedia dengan bahasa Indonesia menduduki peringkat ke 26 dunia dan terbesar ke 3 di Asia
5. Bahasa Indonesia adalah bahasa ke 3 yang paling banyak di gunakan di Wordpress
6. Lidah orang yang berbahasa adalah lidah yang paling yang paling fleksibel untuk berbahasa asing lainnya.

BANGGA MENJADI BANGSA INDONESIA PROUD TO BE INDONESIAN.

Selasa, 16 Desember 2014

Cara Transfer Uang dari Bank BRI ke Bank Muamalat melalui ATM

Kali ini saya akan memposting "Cara Transfer Uang dari Bank BRI ke Bank Muamalat melalui ATM". Buat yang GapTek dalam dunia per-Bank-an seperti saya ini (hehe) disuruh transfer pembayaran dari bank BRI ke rekening lain pasti sudah bingung bagaimana caranya.. Awalnya saya kira harus berbelit-belit untuk transfer nya, ternyata mudah banget. Asalkan di kartu ATM kita tertera logo ATM Bersama pasti bisa.
Dulu saya kira kalo bank BRI hanya bisa transfer ke sesama Bank, jadi pupus sudah harapan saya mau bantu cewek sendiri untuk beli keperluannya dia (hikz hikz jadi PHPin dia terus)  :D Alay dikit lah,,
Trus saya cari Info di mbah Google ternyata bisa tapi belum saya coba :D sampai ketemulah cara di bawah ini :
Cara Transfer Uang ke Rekening BERSAMA :
*.Masukkan Kartu ATM anda
*.Masukkan PIN
*.Di menu utama pilih menu: “TRANSFER“
*.Pilih menu : ”KE REKENING BANK LAIN”
*.Ketikkan : Kode Bank Tujuan  (biasanya 3 digit) diikuti Nomor Rekening Tujuan.
*.Untuk melihat Kode Bank pilih ”DAFTAR KODE BANK”
*.Jika sudah benar pilih “BENAR”
*.Di layar berikutnya tampil permintaan nomor referensi, yang bisa dikosongkan dengan memilih “BENAR”
*.Ketikkan nominal transfer (untuk point ini urutannya bisa berbeda antara masing-masing bank)
*.Lakukan konfirmasi transaksi transfer setelah Nomor Rekening dan Nama Pemilik rekening tujuan muncul di layar
*.Jika sudah benar, transaksi di proses, keluar struk transfer dana.
Contoh Tampilan Kode BankDan biaya per Transfer nya adalah Rp. 5000,-. Gampang too :D, hehehe

Sekian dulu yah pembahasan kita mengenai "Cara Transfer Uang dari Bank BRI ke Bank Muamalat melalui ATM ini. semoga bermanfaat bagi kalian semua :)

O iya jangan lupa selalu kunjungi BLOG saya yang masih newbie ini :) dan klik iklan + daftar jga, OK :D see you tomorrow..

Jumat, 12 Desember 2014

Pola Aliran Gerakan Buruh di Dunia

Akhir-akhir ini seringkali anda melihat aksi besar-besaran dari kaum pekerja yang diakomodir oleh berbagai elemen serikat buruh di tanah air, dalam aksinya pun bermacam-macam yaitu menuntut tingkat kesejahteraan pekerja yang bisa dibilang sangat memprihatinkan. Namun dalam aksi-aksi yang dilakukan ini luar biasanya tak pernah terjadi colaps atau terjadinya kerusuhan, hal ini berbeda ketika gerakan buruh di era tahun sebelum kemerdekaan yang relatif menentang kolonialisme Belanda dan di masa orde lama yang notabenenya gerakan buruh sangat refresif karena di bekingi PKI.
Untuk lebih jelas dan menariknya lagi berikut beberapa pola aliran gerakan buruh di Dunia,
1. Aliran Murni Serikat Buruh, Gerakan ini tumbuh di Inggris tepatnya di tahun 1886 dengan tujuan bahwa serikat buruh dijadikan sebagai wahana peningkatan peran buruh dalam peningkatan keprofesionalan buruh dalam berbagai hal seperti upah, waktu kerja, jam istirahat, syarat kerja, jaminan sosial dan kesejahteraan lainnya. Ciri khas dari pola aliran buruh ini adalah mengadakan kerjasama atau bergaining dengan partai politik agar aspirasi politik kaum buruh dapat direalisasikan. Di indonesia sendiri model aliran buruh ini terjadi diawal periode kemerdekaan sampai dengan tahun 1970-an.
2. Aliran Paham Sosial Demokrat, Gerakan buruh seperti model ini menjadi aliran baru di abad ke 20 terutama di Negara seperti Jerman, Austria, Belanda, Belgia, Swis dan negara Skandinavia yang terdapat partai politik yang berpaham sosial demokrat. Aliran buruh seperti ini beranggapan bahwa serikat buruh memiliki kedudukan atau posisi yang sama dengan partai politik, namun meskipun demikian serikat buruh ini tidak secara langsung melakukan kegiatan politik praktis seperti halnya parpol. Justru ada pembagian tugas dari serikat buruh yaitu yang membidangi urusan partai dan yang membidangi urusan ekonomi sosial. Hal ini bisa anda lihat di Jerman dengan DGB nya, DGB sendiri merupakan serikat pekerja yanh membidangi urusn politik. Di Indonesia sendiri model perkembangan ini pernah diadopsi dan diterapkan pada PEMILU 2004 silam oleh SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia) yang diketuai oleh Mukhtar Parkpahan yang mendukung Partai Buruh Indonesia.
3. Anarko Sindikialisme, Aliran gerakan buruh ini meyakini bahwa serikat buruh yang dimilikinya mampu menguasai dan mengontrol suatu industri yang diiringi dengan kekuatan ekonomi melalui aksi mogok kerja, tindakan kekerasan, aksi radikal ataupun sabotase. Biasanya dalam aliran sindikialisme ini menganggap bahwa pengusaha/pemerintah merupakan lawan yang harus dilumpuhkan jika sewaktu-waktu tuntutannya tidak dipenuhi. Sedangkan di Indonesia organisasi buruh yang menganut paham ini adalah SOBSI dimana bisa dilihat dari dasar perjuangannya yang menentang kelas-kelas sosial dan melaksanakan suatu gerakan yang menuntut revolusi, adapun aksi nyata SOBSI ini terlihat jelas dilakukan di era tahun 1964-1965 yaitu berusaha beramai-ramai mengambil alih perusahaan asing dan menduduki beberapa perusahaan nasional lainya seperti PERBUM, PN PERMIGAN, dll.
4. Gerakan Buruh yang Berpihak, yaitu aliran buruh yang menjadi onderbouw organisasi pemerintahan ataupun partai politik tertentu. Di era orde lama SOBSI bisa juga dikatakan menganut paham ini karena waktu itu serikat buruh ini merupakan orderbow PKI, KSPSI dibawah naungan Partai Demokrat dan PDIP.
5. Gerakan Buruh yang Beraliran Bisnis, yaitu aliran serikat buruh yang beranggapan bahwa salah satu cara untuk mensejahterakan anggotanya adalah melalui kegiatan berbisnis yang berbasis koperasi. Aliran gerakan buruh ini bisa dilihat pada beberapa organisasi buruh di Singapura, seperti; NTUC, SFTU, dan PAP.
Demikian beberapa penjelasan mengenai pola aliran gerakan buruh di dunia ataupun di Indonesia, materi ini merupakan materi yang diambil dari buku "Seabab Gerakan Buruh di Indonesia yang diprakarsai oleh MS Hidajat".

Jumat, 05 Desember 2014

SOSIALISASI POLITIK UNTUK MEMPERKUAT PARTISIPASI POLITIK KAUM PEREMPUAN DALAM KEIKUTSERTAAN PARTAI POLITIK DAN KONTESTASI PEMILIHAN UMUM

Perdebatan tentang kiprah perempuan di panggung politik merupakan isu yang banyak muncul sejak pasca Pemilu 1999 yang kurang memperhatikan komposisi peran perempuan, baik dalam partai politik, pancalonan legislative hingga perolehan kursi di Parlemen dan lembaga-lembaga politik kenegaraan lainnya. Hal ini berdampak kurang kurang diperhatikannya kebijakan yang pro kaum perempuan dalam pengambilan keputusan yang berpihak pada nasib kehidupan komunitasnya sebagai konstituen terbesar di Indonesia. Masalah keterwakilan politik perempuan Indonesia masih sangat rendah. Berkaca pada Pemilu tahun 1999 hanya terdapat 9% dari 462 anggota DPR RI yang merupakan anggota perempuan, namun pada Pemilu 2004 meningkat menjadi 11%. Peningkatan tersebut salah satunya didorong oleh lahirnya 2 UU di bidang politik, yaitu UU 31 tahun 2002 tentang Parpol dan UU No.12 tahun 2003 tentang Pemilu. Bahkan pada pemilu 2009 lalu angka prosentasenya telah mencapai 17% dari seluruh keanggotaan DPR RI yang berjumlah 560 orang yang berdampak dari pemberlakuan kuota 30 persen untuk kalangan perempuan baik dalam partai politik maupun dalam pencalonan legislatif.

Masalah penerapan kuota untuk perempuan diberbagai tingkatan dan berbagai lembaga politik belum tercapai memuaskan kalangan perempuan, serta masalah dampak sistim kebijakan yang kurang berpihak untuk perempuan adalah sebagai implikasi dari peluang dan kesempatan peningkatan partisipasi perempuan bagi partai politik yang minim karena berbagai kendala yang melatarinya. Kendala-Kendala terhadap Partisipasi Politik Perempuan di Indonesia yakni perlunya meningkatkan jumlah kaum perempuan dalam politik terkait beberapa faktor yang menghambat peran serta kaum perempuan. Faktor itu dapat dikategorikan ke dalam bidang politik. Yang dimaksud dengan faktor-faktor politik adalah kurangnya dukungan parpol. Secara lebih spesifik bahwa  sistem politik dan  partai-partai politik Indonesia sangat tidak peka jender. Akibatnya, kaum perempuan berikut isu-isu yang menyangkut diri mereka sangat disepelekan. Topik mengenai sistem pemilu dibahas dengan minat yang tinggi manakala pasal-pasal UU pemilu yang menyangkut kaum perempuan sedang digodok di parlemen sekedar pemberian kuota. Namun ternyata terkait dengan jenis-jenis sistem pemilu yang dibahas antara lain ialah sistem mayoritas, sistem proporsional dan sistem campuran penempatannya kurang mendapatkan ruang yang semestinya. Adalah kenyataan historis tentang rendahnya representasi perempuan Indonesia di semua tingkat pengambilan keputusan akibat sistem kepartaian dan Pemilu yang tidak memberi peluang perempuan berkiprah. Dan, bahkan partai politik kurang banyak memberikan pendidikan politik bagi mereka.

Reformasi politik yang sedang bergulir menuju kehidupan politik yang demokratis adalah peluang untuk memperlebar bagi perempuan dan sektor-sektor masyarakat lainnya untuk mengekspresikan pandangan mereka serta merumuskan dan menyuarakan tuntutan mereka tentang kesadaran dan kepekaan jender yang lebih besar di dalam kebijakan-kebijakan pemerintah, dan legislatif.

Maraknya tuntutan pada representasi perempuan di semua tingkatan dan seluruh aspek kehidupan politik untuk menyuarakan kebutuhan mereka, sekaligus mempertahankan hak-haknya secara bersama-sama mempengaruhi wacana dan arah kebijakan pemerintah menyangkut pelibatan perempuan Indonesia dalam kehidupan publik dan menegaskan pentingnya tanggungjawab para aktor politik perempuan, serta perlunya membangun lembaga-lembaga politik yang memungkinkan tumbuh-berkembangnya kesetaraan jender. Perlunya partai politik bagi perempuan yang mampu mengasah kepekaan dan kesadaran mereka tentang isu-isu jender, serta berupaya merombak struktur internal mereka (misalnya dalam menjalankan proses rekrutmen, seleksi kandidat dan sistem pendanaan bagi kandidat perempuan yang mencalonkan diri dalam pemilu).

Perlunya penanaman sikap kritis dan penyadaran bagi mereka perempuan mereka untuk berkiprah secara efektif dalam perjuangan politik dan Pemilu yang dapat memajukan kaum perempuan. Karenanya pendekatan pada pihak perempuan untuk tidak sebatas sebagai pelengkap penggembira partai politik ataupun peserta pemilih yang diabaikan, namun dibutuhkan media atau wadah untuk mengasah kepekaan dan kesadaran mereka tentang isu-isu jender, platform politik dan jejak rekam partai, serta berupaya merombak struktur internal mereka, misalnya dalam menjalankan proses rekrutmen, seleksi kandidat dan sistem pendanaan bagi kandidat perempuan yang mencalonkan diri dalam pemilu. Sehingga struktur politik Indonesia tidak lagi dibangun di atas jaringan yang sangat eksklusif, yang didominasi oleh kaum lelaki yang berimbas pada kepemimpinan dalam struktur politik pun didominasi oleh laki-laki baik dalam tubuh partai maupun kadidat calon legislatife Pemilu. Di era reformasi mestinya sudah tidak ada lagi keengganan parpol untuk memasukkan agenda perempuan.

Atas dasar itulah diperlukannya suatu sosialisasi peningkatan pemahaman politik bagi perempuan untuk berpartisipasi secara politik dalam kegiatan kepartaian maupun Pemilu.

SITUS PENYEDIA BUKU GRATIS terbaru

Pagi Gan,,,
Kebayang ga sih dalam 3 atau 4 tahun yang lalu ketika anda mencari refrensi sebagai bahan bacaan dirumah namun terkendala biaya? Ataupun pernah mencoba link download buku gratis akan tetapi belum ketemu-ketemu?? Ataupun pernah ketauan nyatetin isi buku saat anda baca buku di toko buku sekitar anda ?? (pengalaman admin)
Ok langsung saja dalam kesempatan ini seperti biasa admin akan berbagi info menarik seputar dunia internet, info yang dimaksud adalah “situs Penyedia E-Book Gratis” yang bisa anda download kapan saja dan tentunya harus terkoneksi intrnet.
Tanpa menunggu waktu langsung saja pantengin situs-situs yang dimaksud
  1. 1.     pakdenono.com
  2. 2.     e-book.id.com
  3. 3.     sahabatmuslim.com
  4. 4.     ebooks.com
  5. 5.     eboolmall.com
  6. 6.     pdf-searchengine.com
  7. 7.     ebookdirectory.com
  8. 8.     tokoebook.com
  9. 9.     mazvi.com
  10.       pustaka78.com


Kalau sudah baca..beleh berkomentar di widget dibawah yah??…..

Wajah Dualisme Pembangunan di Indonesia

Pendahuluan
Saat ini dunia mengalami perkembangan yang sangat pesat, hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin maju dan beriringan dengan pembangunan dimana-mana yang membentuk peradaban menjadi semakin kompleks, tak terkecuali Indonesia. saat ini saja negara yang memiliki penduduk sekitar 240 juta jiwa ini masuk dalam kategori negara BRITIS (Brazil, Rusia, Indonesia, Tiongkok, India, dan Swiss) yaitu negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia.

Dengan masuknya Indonesia pada jajaran BRITIS maka perekonomian Indonesia terus tumbuh dari tahun ke tahun, hal ini memberikan trend positif terhadap stabilitas perekonomian di Indonesia. Maka tidak salah jika pada tahun 2013 Indonesia menjadi negara terbesar ke 10 penyumbang perekonomian dunia yang tergabung dalam G20, yaitu dibawah USA, China, India, Japan, Jerman, Rusia, Brazil, Prancis, dan Inggris.

Dengan demikian bila diambil kesimpulan dari pertumbuhan ekonominya ini, bukan tidak mungkin tingkat kesejahteraan masyarakat (Guru, Pekerja, Buruh, dll) akan terjamin dan bukan tidak mungkin lagi apa yang termaktub dalam UUD 1945 Pasal 33 tersebut dapat terwujud. Secara teori dengan adanya kenaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus meningkat ini akan turut serta dalam memperhatikan  nominal upah buruh dari tahun ke tahun sehingga kesejahteraan masyarakat (pekerja) terwujud, namun dengan kenaikan tarif harga  BBM, TDL, dan kebutuhan pokok lainnya maka pertumbuhan ekonomi ini bisa menjadi sia-sia karena disebabkan oleh terjadinya disparitas upah nominal pekerja dengan biaya kebutuhan riil yang semakin tinggi. Kondisi seperti ini diperparah lagi dengan kondisi Gini Ratio Indonesia yang terus meningkat menjadi 0,413% (Data BPS 2014), artinya 41,3% kekayaan Indonesia hanya dikuasai oleh 1% orang terkaya. Kondisi seperti inilah yang dimaksud dengan Dualisme Pembangunan. Dualisme pembangunan adalah Dua kondisi yang berbeda, hidup berdampingan dalam masyarakat, satu bersifat superior – lainnya inferior, dalam beberapa hal saling bertentangan (yang satu merugikan lainnya, dan sebaliknya), bersifat kronis (bukan sementara sifatnya).

Lalu Apa sih Dualisme Pembangunan itu??? Secara Umum, dualisme adalah perbedaan antara bangsa kaya dengan bangsa miskin, perbedaan antara berbagai golongan masyarakat yang semakin meningkat. Selanjutnya yaitu mengenai pemaparan materi mengenai unsur-unsur penentu dualisme pembangunan, unsur-unsur yang dimaksud antara lain;
  1. Dua keadaan yang berbeda dimana yang satunya bersifat “superior” dan satunya bersifat “inferior” yang hidup secara berdampingan. Misalnya hidup berdampingannya metode produksi modern dan tradisional pada daerah perkotaan dan pedesaan
  2. Kenyataan hidup yang berdampingan itu bersifat kronis dan bukan transisional, dengan kata lain kemakmuran dan kemiskinan itu bukanlah suatu fenomena yang akan hilang dengan sendirinya
  3. Derajat superioritas dengan inferioritas akan terus meningkat, misalnya tingkat produktivitas Negara maju dengan NSB akan terus meningkat dari tahun ke tahun.
  4. Keberadaan unsur superior (Negara maju) tersebut hanys berpengaruh kecil atau tidak berpengaruh sama sekali dalam mengangkat unsur inferioritas (NSB). Bahkan realitanya unsur superior seringkali menjadi penyebab keterbelakangan pada unsur-unsur inferior.

Sehingga dengan adanya unsur-unsur penentu dualisme pembangunan tersebut akan membentuk kelompok tersendiri bagi dualisme pembangunan, adapun bentuk-bentuk yang dimaksud adalah sebagai berikut;
  • Dualisme Sosial (Prof. Boeko), menurut teori ini Kemungkinan besar dalam suatu masyarakat terdapat dua sistem sosial yang berbeda, kedua sistem tersebut hidup secara berdampingan namun tidak bisa sepenuhnya saling menguasai . Dualisme ini memiliki  3 ciri , yaitu semangat sosial, bentuk organisasi, dan tekhnologi yang mendominasinya dan Kelompok masyarakat dengan sistem sosial modern (diwarisi dari penjajah Belanda atau dari peniruan sistem sosial negara-negara barat), hidup berdampingan dengan kelompok masyarakat  tradisional (sem sosial asli). Dualisme sosial ini saling bertentangan (rasional vs emosional), misalnya cocok tanam perkebunan vs tradisional, industri modern vs industri tradisional
  • Dualisme Tekhnologi, Suatu keadaan dimana dalam suatu kegiatan ekonomi tertentu digunakan tekhnik produksi dan organisasi produksi yang modern yang sangat berbeda dengan kegiatan ekonomi lainnya dan pada akhirnya akan mengakibatkan tingkat produktivitas yang sangat besar. Ciri mendasar dari bentuk dualisme ini adalah Industri dengan teknologi modern (capital intensive); Produktivitas tinggi; Contoh industri minyak, pertambangan besar dan Industri dengan teknologi rendah (labor intensive); Produktivitas rendah namun menyerap banyak tenaga kerja. Contoh industri pertanian pangan, rumah tangga, pertanian ekspor dengan teknologi tradisional
  • Dualisme Finansial (Hlya Myint), Dalam pemikirannya, Myint lebih menyoroti masalah lembaga keuangan pada NSB. Menurutnya pasarlah yang melahirkan dualisme finansial, sehingga dualisme ini diartikan kedalam dua golongan, yaitu; (1). adanya pasar uang yang terorganisasi dengan baik dan sempurna. Biasanya tipe ini memiliki akses dengan bank, lembaga keuangan lainnya. (2). Adanya pasar uang yang tidak terorganisir, biasanya pasar uang jenis ini berbentuk tradisional dan konvensional (masyarakat berhubungan dengan rentenir, petani kaya, pemilik modal, pedagang kaya).
  • Dualisme Regional, Dualisme ini adalah ketidakseimbangan tingkat pembangunanyang terjadi di beberapa daerah dalam suatu negara, ketidakseimbangan ini mengakibatkan adanya perbedaan tingkat kesejahteraan yang sangat tinggi sehingga bisa menimbulkan masalah sosial dan politik, misalnya wilayah maju (pusat negara/ pusat kota/ pusat industri), wilayah terbelakang (pedesaan, pinggiran. (Terjadi karena ketidak seimbangan pembangunan
    DAFTAR PUSTAKA
    Mai, Chandra, dkk. 2012. Ekonomi Pembangunan. Jakarta: Unindra Press.
 Www. ekonomimanajemen.blogspot.com/2011/04/dualisme-ekonomi http://id.wikipedia.org.id/wiki/masalahdualismediunduh 23 November 2014, pukul 21.09.
   Makalah persentasi seminar ketenagakerjaan kerjasama KSPI dan JILAF, Hotel Grand Cempaka Jakarta

Rabu, 03 Desember 2014

MASALAH DUALISME PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

Latar Belakang
Saat ini dunia mengalami perkembangan yang sangat pesat, hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin maju dan kompleks, kemajuan ini ditandai dengan adanya pembangunan dimana-mana yang membentuk peradaban, tak terkecuali Indonesia. saat ini saja negara yang memiliki penduduk sekitar 240 juta jiwa ini masuk dalam kategori negara BRITIS (Brazil, Rusia, Indonesia, Tiongkok, India, dan Swiss)yaitu negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia.
Secara teori dengan adanya kenaikan pertumbuhan ekonomi negara ini otomatis secara akan terjadi kenaikan nominal upah dari tahun ke tahun sehingga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat (pekerja), namun dengan kenaikan tarif harga  BBM, TDL, dan kebutuhan pokok lainnya maka pertumbuhan ekonomi ini bisa menjadi sia-sia karena disebabkan oleh terjadinya disparitas upah nominal pekerja dengan biaya kebutuhan riil yang semakin tinggi. Kondisi seperti ini diperparah lagi dengan kondisi Gini Ratio Indonesia yang terus meningkat menjadi 0,413% (Data BPS 2014), artinya 41,3% kekayaan Indonesia hanya dikuasai oleh 1% orang terkaya. Kondisi seperti inilah yang dimaksud dengan Dualisme Pembangunan. Dualisme pembangunan adalah Dua kondisi yang berbeda, hidup berdampingan dalam masyarakat, satu bersifat superior – lainnya inferior, dalam beberapa hal saling bertentangan (yang satu merugikan lainnya, dan sebaliknya), bersifat kronis (bukan sementara sifatnya).
Teori dualisme pertama kalinya dikemukakan oleh seorang ekonom Belanda, J.H. Booke. Teorinya berasal dari suatu fenomena dimana konsep ekonomi barat yang dibawa dan diterapkan oleh para penjajah ternyata tidak mampu untuk mensejahterakan rakyat jajahannya (dalam hal ini rakyat Indonesia). Negara eks jajahan memiliki pola dan sistem sosial yang berbeda dengan Negara barat. Pada awalnya pola dan sistem sosial barat memiliki daya penetrasi yang cukup kuat untuk masuk ke dalam sistem sosial Negara jajahannya. Tetapi memang pada dasarnya adalah berbeda, tidak mungkin untuk disama-samakan penetrasi yang dilakukan ternyata kurang bermakna dan menyongkong satu dengan lainnya. Semuanya kelihatan semu, cantik di luar namun ada borok di dalamnya. Tidak menyembuhkan penyakit yang sesungguhnya.
Pengertian Dualisme
Dualisme adalah ajaran atau faham yang memandang alam ini terdiri atas dua macam hakekat yaitu hakekat materi dan hakekat rohani. Kedua macam hakekat itu masing-masing bebas berdiri sendiri, sama azazi dan abadi. Perhubungan antara keduanya itu menciptakan kehidupan dalam alam. Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakekat ini adalah terdapat dalam diri manusia. Jadi, dualisme adalah perbedaan antara bangsa kaya dan miskin. Perbedaan antara berbagai golongan masyarakat yang semakin meningkat.
Dualisme merupakan suatu konsep yang sering dibicarakan dalam ekonomi pembangunan, terutama kalau kita membicarakan kondisi sosial-ekonomi di NSB. Konsep ini menunjukan adanya perbedaan antara bangsa-bangsa kaya dan miskin, dan perbedaan antara berbagai golongan masyarakat yang semakin meningkat. Pada dasarnya, konsep dualisme mempunyai empat karakteristik pokok yaitu:
1.             Dua keadaan yang berbeda dimana satu keadaan bersifat superior (di atas rata-rata, lebih baik) dan keadaan lainnya bersifat inferior (rendah mutunya, kurang cerdas) yang hidup berdampingan pada ruang dan waktu yang sama.
2.             Kenyataan hidup berdampingan dua keadaan hidup yang berbeda tersebut bersifat kronis dan bukan transisional.
3.             Derajat superioritas atau inferioritas itu tidak menunjukan kecenderungan yang menurun, bahkan terus meningkat.
4.             Keterkaitan antara unsur superior dan unsur inferior tersebut menunjukan bahwa keberadaan unsur superior tersebut hanya berpengaruh kecil sekali atau bahkan tidak berpengaruh sama sekali dalam mengangkat derajat unsur inferior.
Jenis Dualisme
Dualisme Sosial, Suatu pertentangan sistem sosial yang diimpor dengan sistem sosial pribumi yang memiliki corak berbeda. Dualisme ini merupakan temuan dari seorang ekonom Belanda. J. H. Booke, tentang sebab-sebab kegagalan dari kebijakan (ekonomi) kolonial Belanda di Indonesia pada jaman penjajahan. Prinsip pokok tesis Booke adalah pembedaan antara tujuan kegiatan ekonomi di Barat dan Timur secara mendasar. Ia mengatakan bahwa kegiatan ekonomi di Barat lebih didasarkan pada rangsangan kebutuhan ekonomi, sedangkan di Indonesia lebih disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan sosial. Secara tajam ia mengkritik usaha-usaha dalam menjelaskan proses pengalokasian sumberdaya atau distribusi pendapatan dengan cara menggunakan teori produktivitas marjinal dari kaum Neo Klasik, terutama sekali karena adanya immobilitas sumberdaya dalam masyarakat Timur.
Berbicara mengenai konsep dualismenya sendiri, Booke mengawali penjelasannya dengan mengatakan bahwa perspektif ekonomi, masyarakat memiliki tiga ciri, yaitu adanya semangat sosial, bentuk organisasi, dan tekhnologi yang mendominasinya. Saling ketergantungan dan saling keterkaitan antara ketiga crri tersebut disebut sistem social atau gaya sosial.
Secara khusus, Mackie (1981) dengan tegas mengatakan bahwa teori dualisme (Booke) tidak banyak membantu, bahkan cenderung menghambat usaha mempelajari perekonomian di Indonesia. Namun demikian, dia juga heran mengapa teori yang dianggap “salah” oleh banyak sarjana ekonomi itu terus-menerus dibicarakan dalam hubungannya dengan perekonomian Indonesia
Sementara itu, para sosiolog dan antropolog menyatakan bahwa kalau memang dalam suatu masyarakat terdapat dualisme, maka sifat tersebut tidak akan hilang begitu saja dengan adanya proses pembangunan ekonomi. Itulah sebabnya, Clifford Geertz (1963) mengenalkan konsep dualisme yang lain yaitu dualisme ekologis.
Dualisme Ekologis
Suatu perbedaan dalam sistem ekologis yang menggambarkan pola-pola sosial ekonomi yang menyatu dalam keseimbangan internal. Pada tahun 1963, Cliffrord Greetz mengenalkan konsep tersebut. Menurut Greetz, dualisme ditandai oleh perbedaan-perbedaan dalam sistem ekologis. Setiap sistem ekologis tersebut menggambarkan pola-pola sosial dan ekonomi tertentu yang menyatu di dalamnya dan membentuk suatu keseimbangan internal. Greetz menggambarkan adanya stabilitas dualisme  tersebut menunjukan bahwa dualisme prakolonial di Indonesia semakin menguat dengan adanya intervensi colonial, bukannya semakin menurun atau berkurang.
Greetz menjelaskan konsepnya tentang dualisme ekologis ini dengan menggunakan kasus Indonesia. Ia menjelaskan tentang adanya perbedaan antara “Indonesia Dalam” dan “Indonesia luar”. “ Indonesia Dalam , dalam hal ini diinterpretasikan oleh jawa, merupakan sistem ekologis padat karya yang dintandai oleh pertanian padi, tebu, dan tanaman lainnya yang membutuhkan kondisi iklim tropis dan semi tropis dan membutuhkan banyak air. Sementara “Indonesia luar” ditandai oleh pertanian yang padat tanah dan padat modal, produk padat karya, seperti produk tambang, karet, dan kelapa sawit .

Dualisme Teknologi
Benjamis Higgins (1956) mempertanyakan kesahihan dari observasi empiris Boeke dan menunujukan contoh yang lebih khusus mengenai kegunaan kerangka analisis ekonomi barat dalam menghadapi apa yang dikemukakan Boeke. Higgins- yang secara eksplisit menolak dualisme sosialnya Boeke – berargumen bahwa asal mula dualisme adalah adanya perbedaan teknologi antara sektor modern dan sektor tradisonal.
Menurut Higgins, sektor modern terpusat pada produksi komuditas primer dalam pertambangan dan perkebunan. Sektor modern itu mengimpor teknologinya dari luar negri. Teknologi impor yang digunakan dalam sektor modern tersebut bersifat hemat tenaga kerja (Labour saving) di mana secara relatif modal yang digunakan keadaan ini berbalikan dengan keadaan pada sektor tradisonal yang ditandai oleh besarnya kemungkinaan untuk mengganti modal dengan tenaga kerja serta penggunaan metode produksi yang padat tenaga kerja (Labour intensive). Perkambangan sektor modern terutama sekali sebagai respon terhadap pasar luar negeri dan pertumbuhannya hanya mempunyai dampak yang kecil terhadap perkonomian lokal. Sedangkan perkambangan sektor tradisional sangat terbatas karena kurangnya tabungan (pembentukan modal).
Dengan kata lain, dualisme teknologi adalah suatu keadaan di mana dalam suatu kegiatan ekonomi tertentu digunakan teknik produksi dan organisasi produksi yang modern yang sangat bebeda dengan kegiatan ekonomi lainnya dapat akhirnya akan mengakibatkan timbulnya perbedaan tingkat produktivitas yang sangat besar.
Dualisme Finansial
Hla Myint (1967) meneruskan studi Higgins tentang peranan pasar modal dalam proses dualisme. Myint membuat analisis mengenai pasar uang yang terdapat di NSB dapat menunjukan adanya Dualisme Finansial. Pengertian Dualisme Finansial ini menunjukan bahwa pasar uang di NSB dapat dipisahkan ke dalam dua kelompok, yaitu:
a.         Pasar uang yang terkelola dangan baik (organized money market), Pasar uang ini meliputi bank-bank komersil dan badan-badan keuangan lainnya.        Hal ini terutama terdapat di kota-kota besar dan pusat-pusat perdagangan.
b.         Pasar uang yang tidak terkelola(unorganized money market). Unorganized money market adalah bentuk pasar uang yang bukan berbentuk institusional, terdiri dari tuan-tuan tanah, pedagang-pedagang perantara. Biasanya pasar uang jenis ini lebih menonjol untuk daerah pedesaan yang terkenal dengan rentenir dan sistem ijon. Adanya kebutuhan yang mendesa akan uang mengakibatkan cara tersebut yang mudah dijangkau oleh masyarakat di pedesaan.

Dualisme Regional    
Dualisme Regional ini banyak dibicarakan para ahli sejak tahun 1960-an. Pengertian Dualisme ini adalah ketidakeseimbangan tingkat pembangunan antar berbagai daerah dalam suatu negara. Ketidakeseimbangan ini sebenarnya terdapat juga di negara-negara maju, namun keadaan tidaklah separah seperti yang terjadi di NSB. Selain itu, di negara- negara maju ketidakeseimbangan ini cenderung betambah kecil.
Dualisme Regional ini dapat mengakibatkan bertambah lebarnya kesejangan (gap) tingkat kesejahteraan antar berbagi daerah. Selain itu rualisme Regional yang semakin buruk juga dapat menimbulkan masalah-masalah sosial-politik yang dapat menghambat usaha untuk mempercepat lajunya pertumbahan ekonomi di NSB. Di indonesia, kesejangan regional ini bahkan menimbulkan isu tentang saparatisme di republik ini. Pada dasarnya, dualisme regional yang terjadi di NSB dapat di bedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1.             Dualisme antara daerah perkotaan dan perdesaan
2.             Dualisme antar pusat negara, pusat industri dan perdagangan daerah-daerah lain dalam Negara tersebut.

Kedua jenis Dualisme tersebut timbul terutama sekali sebagai akibat dari adanya investasi yang tidak seimbang antara daerah industri (perkotaan) dengan daerah pertaniaan (perdesaan). Ketidakseimbangan tersebut pada akhirnya memicu timbulnya kesenjangan antara pusat negara dengan daerah-daerah lainnya, atau antara daerah perkotaan dengan daerah perdesaan. Berikut ini di bahas kondisi dualisme regional di indonesia yakni  antara Jawa dan luar  Jawa serta Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Berbagai kondisi ketertinggalan KTI dibandingkan KBI dapat dilihat dari dua jenis ketimpangan yaitu :
1.             Ketimpangan Ekonomi, Selama ini pendapatan parkapita KTI selalu berada di awah rata-rata pendapatan per kapita nasional
2.             Ketimpangan Infrastruktur, Ketersediaan prasarana dan sarana fisik yang kurang memadai.
Adanya dua jenis ketimpangan tersebut, menimbulkan dampak pada penyebaran populasi penduduk, dan mengakibatkan perbedaan kinerja pembangunan wilayah antara KBI dan KTI, sebuah studi mengenai daya siang daerah  (Regional competitiveness) dari Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan, Bank Indonesia (2002) telah mengukur kinerja 26 privinsi di Indonesia, dengan menggunakan 9 indikator daya saing daerah, yaitu: (1) perkonomian daerah, (2)keterbukaan, (3) sistem keuangan, (4) infrastruktur dan SDA, (5) IPTEK, (6) SDM, (7) kelembagaan, (8) governance dan kebijakan pemerintah, serta (9) menajemen dan ekonomi mikro.
Dapat disimpulkan, bahwa dimensi ruang (spasial) dalam pendekatan pembangunan sebenarnya tidak hanya memandang daerah sebagai bagian dari ruang sub-nasional, namun juga bagaimana daerah dapat berinteraksi satu sama lain (interregional linkage) yang pada akhirnya mampu menciptakan sebuah sinergi.

Pengaruh dualisme terhadap pembangunan
Berbagai corak hambatan yang timbul sebagai akibat dari adanya sifat-sifat dualisme dalam perekonomian yang perkembangannya masih belum begitu tinggi bersumber dari adanya pengaruh yang masih kuat dari sektor-sektor tradisional terhadap kehidupan seluruh masyarakat dan kegiatan perekonomian. Sebagai besar kegiatan ekonomi dalam NSB yang relatif miskim masih dilaksanakan dengan menggunakan teknik yang masih tradisional pula. Teknik-teknik yang masih sangat sederhana menyebabkan produktivitas berbagai kegiatan rendah, dan pola pikir teradisional menyebakan usaha-usaha untuk mengadakan perubahan atau pembaharuan sangat terbatas. Dengan demikian, sektor yang memiliki cara produksi tradisional dan produkvitas rendah tidak akan mengalami perubahan yang berarti dari masa ke masa.
Dalam suatu masyarakat tradisional, umumnya terdapat sifat-sifat berikut:
1.      Taraf pendidikan sebagian masyarakatnya masih sangat rendah.
2.      Cara hidup dan pola pikir masyarakatnya masih dipengaruhi oleh nilai agama, dan adat istiadat, pandangan hidup mereka yang pasrah terhadap kekuasaan alam dan tuhan.
3.      Sisa-sisa feodalisme masih sangat di rasakan dalam hubungan sosial di antara berbagai golongan masyarakat.
Ciri-ciri masyarakat tradisional tersebut menimbulkan ketidaksempurnaan pasar. Sikap masyarakat juga dianggap memicu timbulnya ketidaksempurnaan pasar di NSB. Berbagi macam keadaan yang menimbulkan ketidaksempurnaan pasar seperti yang baru saja diuraikan, menyebabkan sumberdaya-sumberdaya yang terdapat di NSB tidak dapat digunakan secara efisien. Hal ini bukan saja menimbulkan penggangguran para berbagai sumberdaya, tetapi juga mengakibatkan penggunaan sumberdaya tersebut tidak selalu diarahkan kepada sektor dan kegiatan yang potensi pekembangannya relative lebih baik.
Di samping adanya beberapa pengaruh negative dari adanya Dualisme sosial terhadap pembangunan, sering dinyatakan pula Dualisme dalam tingkat teknologi yang di gunakan dapat menimbulkan dua keadaan yang mungkin mempengaruhi lajunya tingkat pembangunan ekonomi.
Pertama , Dualisme teknologi terlahir sebagai akibat dari penguasaan modal asing atas sektor modern, sebagai besar keutungan yang diperoleh modal asing tersebut akan dibawa ke luar negeri.
Kedua, Dualisme teknologi akan membawa tiga dampak negatif, yaitu: (1) membatasi kemampuan sektor modern dalam menciptakan kesempaan kerja, (2) membatasi kemampuan sektor pertanian untuk berkembang, (3) memperburuk masalah pengangguran. Sehingga, meskipun pada prinsipnya pembangunan itu bertujuan untuk menigkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat, namun realitanya manfaat pembangunan seringkali dinikmati oleh segolongan kecil penduduk di NSB, seperti: (1) jurang tingkat pendapatan antara golongan kaya dan miskin semakin bertambah lebar, (2) pembangunan belum sanggup menciptakan kesempatan kerja yang seimbang dengan pertambahan tenaga kerja, sehingga tingkat pengangguran semakin buruk.